Selasa, 20 April 2010

peghapus dosa

PENGHAPUS DOSA

[p]Termasuk bentuk kemurahan Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] kepada kita adalah, Dia mensyari’atkan kepada kita sebagian amalam-amalan yang dapat menhapuskan dosa dan kesalahan. Dan sebagiannya telah datang dalam Al-Quran dan yang lainnya dalam as-Sunnahm Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani [i]rahimahullah[/i] telah menulis sbuah kitab dengan judul “Ma’rifatul Khishaal Mukaffiratu adz-Dzunub al-Muqaddamah Wa al-Muakhkharah” yang artinya “Mengetahui Penghapus-Penghapus Dosa Yang Lalu dan Yang Akan Datang” dan kami telah meringkas perkara-perkara tersebut dari kitab ini dan selainnya yang membahas tema yang sama yaiut tentang hal-hal yang bisa menhapuskan dosa. Kami meminta kepada Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] dengan Asmaul Husna dan Sifatnya yang tinggi agar memberikan manfaat kepada kami dan kepada seluruh kaum muslimin dengan apa-apa yang ada di dalamnya. Dan berikut ini sebagian amalan yang dapaat menhapuskan dosa:

[b] 1.Menyempurnakan wudhu dan berjalan menuju masjid[/b]

Dari Abu Hurairah [i]radhiyallahu 'anhu[/i], bahwa Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات قالوا بلى يا رسول الله قال إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط فذلكم الرباط فذلكم الرباط

رواه مالك ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه بمعناه

[/r][p]“Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu dengannya Allah menghapuskan dosa dan ,meningkatkan derajat?” mereka berkata:’Tentu wahai Rasulullah ‘. Beliau menjawab:”Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam kondisi tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah shalat, maka itu adalah [i]ribath[/i], itu adalah [i]ribath[/i], itu adalah [i]ribath[/i] (berjaga-jaga di daerah perbatasan musuh)” (Dtrtwayatkan oleh Imam Malik, Muslim, at-Tirmidzi dll. Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhiib 185)

[b] 2.Puasa hari ‘Arafah dan ‘Asyuraa’[/b][r]

صيام يوم عرفة إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله و السنة التي بعده و صيام يوم عاشوراء إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله .

[/r][p] Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:”Puasa hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] hal itu menghapuskan satu tahun sebelumnya dan sesudahnya, dan puasa ‘Asyuraa’ aku berharap kepada Allah hal itu menghapuskan satu tahun sebelumnya” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Lihat Shahih al-Jaami’)

[b] 3. Shalat malam di bulan Ramadhan[/b][r]

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي

[/r][p] Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:”Barang siapa yang, ,menghidupkan ramadhan (shalat di malamnya), diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasaai)

[b]4. Haji mabrur[/b][r]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع من ذنوبه كيوم ولدته أمه رواه البخاري وغيره

[/r][p] Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:”Barang siapa yang berhaji dan dia tidak berbuat rafats (hubungan suami istri) dan tidak berbuat kefasikan maka kembali dari dosanya seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya”.(HR.al-Bukhari dan lainnya)

[p]Dan Rasulullah [i]shallahu 'alaihi wasalam[/i] juga bersabda:[r]

الحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة رواه أحمد والطبراني في الأوسط صحيح الجامع (3170)

[/r][p]”Haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga”.(HR. Imam Ahmad dan ath-Thabrani. Shahihul Jami; (3170))

[b]5. Memaafkan (menghapus atau memberi tempo) orang yang berhutang dan bangkrut[/b]

Dari Abu Hurairah berkata:[r]

عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( كان تاجر يداين الناس فإذا رأى معسرا قال لفتيانه تجاوزوا عنه لعل الله يتجاوز عنا فتجاوز الله عنه ) رواه البخاري فتح الباري(4/309)

[/r][p] Dari Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bahwa beliau bersabda:”Dahulu ada seorang pedagang yang memberikan hutang kepada manusia (para pembeli), apabila dia melihat mereka kesusahan dalam membayarnya dia berkata kepada pembantunya:’Maafkanlah dia (hapuskam atau tangguhkan hutangnya), semoga Allah kelak akan memaafkan kita. Maka Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] memaafkannya”.(HR Imam al-Bukhari. Fathul Bari 4/309)

[b]6. Mengikuti/menyusul keburukan dengan kebaikan[/b]

Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] berfirman (artinya):

[i]”Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan”.[/i] (QS.Huud: 114)

[p]Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

7 - اتق الله حيثما كنت و أتبع السيئة الحسنة تمحها و خالق الناس بخلق حسن . ( حسن ) انظر حديث رقم : 97 في صحيح الجامع .

[/r][p]”Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan ikutilah/susullah perbuatan buruj dengan kebaikanm, nisscaya dia (kebaikan) akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang terpuji”.(hadits hasan. Lihat hadits ke 97 dalam Shahihul Jami’)

[b]7.Menybarkan salam dan mempebagus ucapan[/b],Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

" إن من موجبات المغفرة بذل السلام و حسن الكلام " .رواه الخرائطي في " مكارم الأخلاق وصححه الألباني في " السلسلة الصحيحة " 1935

[/r][p]”Sesungguhnya yang termasuk sebab pengampunan adalah menyebarkan salam dan baik dalam perkataan”.(HR.al-Kharaaithy dalam Makarimul Akhlaq. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 1935)

[b]8. Sabar ketika mendapatkan ujian[/b],Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

" إن الله تعالى يقول : إذا ابتليت عبدا من عبادي مؤمنا ، فحمدني و صبر على ما ابتليته به ، فإنه يقوم من مضجعه ذلك كيوم ولدته أمه من الخطايا ، و يقول الرب للحفظة : إني أنا قيدت عبدي هذا و ابتليته ، فأجروا له من الأجر ماكنتم تجرون له قبل ذلك و هو صحيح " . أخرجه أحمد ( 4 / 123 ) وحسنه الألباني في " السلسلة الصحيحة "144

[/r][p]”Sesungguhnnya Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] berfirman:”Apabila Aku menguji salah seorang hambaku dari hamba-hamba-Ku yang beriman, lalu dia memuji-Ku dan bersabar terhadap ujian yang menimpanya, maka dia bangkit dari pembaringannya seperti ketika dia baru dilahirkan oleh ibunya (bersih) dari dosa. Dan Allah [i]Subhanahu wa Ta'ala[/i] berfirman kepada para Malaikat penjaga:”Aku telah mengikat hamba-Ku ini dan telah mengujinya, maka tulislah baginya pahala sebagaimana kalian menulisnya sebelum itu ketika dia sehat”.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/123 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 144)

[b]9.Menjaga Shalat lima waktu, sholat Jum’at dan puasa Ramadhan[/b],Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.

[/r][p]”Shalat lima waktu, (dari) shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa besar dijauhi”.(HR. Imam Muslim)

[b]10. Menyempurnakan wudhu[/b][r]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ ».

[/r][p]Dari Abu Hurairah [i]radhiyallahu 'anhu[/i], bahwa Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:”Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, maka ketika membasuh wajahnya keluar dari wajahnya dosa yang dia lihat dengan matanya bersama air wudhu atau tetesan air terakhir. Apabila membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari setiap tangannya dosa yang dia lakukan dengan tangannya bersama air atau air tetesan terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari tiap-tiap kakinya dosa yang dia tempuh dengan kakinya bersama air atau air tetesan terakhir”.(Syarah Shahih Musllim oleh Imam Nawawi [i]rahimahullah[/i])

[b]11.Membaca dzikir-dzikir penhapus dosa[/b],[p]a.Imam Muslim [i]rahimahullah[/i] meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Sa’d bin Abi Waqqash [i]radhiyallahu 'anhu[/i] dari Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] , beliau bersabda:[r]

« مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ ».

[/r][p]”Barang siapa yang ketika mendengar adzan membaca:[r]

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا

[/r][p]maka akan diampuni dosanya.(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 4/331)

[p]Dan barang siapa yang membaca:[r]

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

[/r][p]dalam sehari 100 kali, dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan. (HR. al-Bukhari dan Muslim. Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 17/20)

Dan dalam Shahih Muslim juga dari Abu Hurairah [i]radhiyallahu 'anhu[/i] dari Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i]:[r]

« مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ».

[/r][p]“Barang siapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat:[r]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

[/r]diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.”(Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi 5/99)

[p]Dari Mu’adz bin Anas (dari bapaknya) [i]radhiyallahu 'anhu[/i] bahwa Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:”Barang siapa yang makan lalu membaca:[r]

الحمد لله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة

[/r][p](Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan aku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR.at-Tirmidzi, dihasankan oleh al-Albani [i]rahimahullah[/i])

[p]Dan barang siapa yang memakai pakaian lalu membaca:[r]

لحمد لله الذي كساني هذا و رزقنيه من غير حول مني و لا قوة

[/r][p](Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepadaaku dan memberi rizki tanpa daya dan kekuatanku), diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR.Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

[b]12.Adzan[/b], Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

إن المؤذن يغفر له مدى صوته

[/r][p]”Sesungguhnya muadzin diampuni dosanya sejauh mana suaranya”.(hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahamad di dalam musnadnya. Lihat Shahihul Jami’)

[p][b]13.Shalat[/b], dari Abu Hurairah [i]radhiyallahu 'anhu[/i], Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

أرأيتم لو أن نهرا بباب أحدكم يغتسل منه كل يوم خمس مرات هل يبقى من درنه شيء ؟ قالوا لا يبقى من درنه شيء قال فذلك مثل الصلوات الخمس يمحو الله بهن الخطايا

[/r][p]”Apa pendapat kalian sekiranya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, dia mandi setiap hari 5 kali, apakah tersisa kotorannya?Mereka (para Sahabat) berkata:”Tidak tersisa dari kotorannya sedikit pun.”Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:”itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dengannya.”(HR.al-Bukihari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/11)

[p][b]14.Berjalan untuk shalat ke masjid[/b], Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

( صلاة الرجل في الجماعة تضعف على صلاته في بيته وفي سوقه خمسة وعشرين ضعفا وذلك أنه إذا توضأ فأحسن الوضوء ثم خرج إلى المسجد لا يخرجه إلا الصلاة لم يخط خطوة إلا رفعت له بها درجة وحط عنه بها خطيئة فإذا صلى لم تزل الملائكة تصلي عليه ما دام في مصلاه اللهم صل عليه اللهم ارحمه ولا يزال أحدكم في صلاة ما انتظر الصلاة )

[/r][p]”Shalatnya seorang laki-laki bersama jama’ah (di masjid). Dilipat gandakan dari shalatnya di rumahnya, di pasarnya 25 kali lipat, hal itu apabila dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu keluar menuju masjid, tidaklah dia keluar kecuali untuk shalat, maka tidaklah dia melangkahkan kakinya satu langkah kecuali dinaikkan untuknya satu derajat, dan dihapuskan darinya satu kesalahan. Apabila selsai shalat maka para Malaikat terus-menerus mendoakannya selama dia berad di tempat shalatnya dengan doa: اللهم صل عليه اللهم ارحمهdan salah seorang di antara kalian berada dalam shala tselama menunggu shalat.(HR.al-Bukhari dan Muslim)

[b][p]Bertepatan ucapan “Aamiin” nya dengan amiin malaikat[/b], Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda:[r]

: ( إذا قال الإمام { غير المغضوب عليهم ولا الضالين } . فقولوا آمين فإنه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه

[/r]p[]“Apabila imam menucapkan { غير المغضوب عليهم ولا الضالين }, maka ucapkanlah aamiin, karena barang siapa yan amiinya bertepatan dengan aamiinnya Malaikat maka diampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. al-Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari 2/266)

[p]Dan masih banyak lagi pengahpus penghapus dosa yang lain, seperti ahalat malam. Jihad di jalan Allah, sedekah, telah mendapatkan hukuman had di dunia dan lain-lain.[i]Wallahu A’lam[/i]

[p]([b]Sumber:”Ath-Thariq ilaa al-Janah”[/b]diterjemahkan dengan sedikit perubahan oleh Abu Yusuf Sujono)

Rabu, 09 Desember 2009

FENOMENA MARAKNYA BUNUH DIRI

Akhir-akhir ini kita menyaksikan sebuah fenomena yang membuat kita terheran-heran sekaligus mengelus dada. Fenomena tersebut adalah maraknya tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang yang katanya hidup di zaman maju dan modern seperti sekarang ini. Yang membuat kita heran lagi adalah bahawa pelaku bunuh diri tersebut rata-rata mereka adalah orang yang berada di kelas ekonomi menengah keatas. Kalau kita menggunakan kacamata duniawi pasti kita akan mengira bahwa orang-ortang yang berada di kelas menengah ke atas pasti mereka hidup bahagia dan jauh dari keinginan untuk bunuh diri, karena kehidupan yang bahagia lebih nikmat dari pada mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Akan tetapi kenyataan berbicara lain, sebagaimana yang kita saksikan dan kita dengar sekarang bahwa pelaku bunuh diri sebagian besar mereka adalah orang-orang kaya. Ternyata tindakan bunuh diri ini dipicu oleh beberapa sebab dan sebab yang paling utama adalah sempitnya hidup mereka, maksudnya adalah bahwa mereka tidak bisa mendapatkan kelapangan dan kebahagiaan dalam hidup yang mereka jalani. Dan sebab terbesar kesempitan hidup tersebut adalah berpalingnnya seseorang dari petunjuk Allah berfrupa al-Quran, dan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana firman Allah Ta'ala:


وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124}

“Dan barangsiapa yang berpaling dariDzikri, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta"(QS.: Thaahaa:124)

Makna dzikri sebagaimana dijaelaskan oleh Ahli tafsir adalah al-Quran, kitab Allah, perintaah Allah, berdzikir (mengingat-Nya) dan makna-makna yang lain.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang ayat ini, apakah ayat ini berlaku untuk setiap orang yang lalai dari berdzikir kepada Allah?.Maka beliau rahimahullah menjawab:”Ini adalah ancaman yang keras bagi orang yang berpaling dari mengingat (dzikir) Allah, dari ketaatan kepada-Nya dan tidak menunaikan hak Allah. Ini adalah balasan baginya, yaitu mendapatkan kehidupan yang sempit. Seandainya dia bergelimang harta dan kemewahan, maka hartanya membuat hidupnya sempit, karena apa-apa yang menimpa hatinya berupa kesempitan dan kesusahan dan saat itulah hartanya tidak bermanfaat. Dia berada dalam kesempitan dan kesusahan karena berpalingnya dia dari mengingat Allah dan dari beribadah kepada-Nya, kemudian dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Maka maksud dari ayat ini adalah bagi orang-orang yang lalai dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan dari haq-haq-Nya, dan tidak memperhatikan perintah-perintah Allah bahkan melanggar larangan-larangan Allah, dan meninggalkan ketaatan (perintah)Nya, maka inilah balasannya. Kita memohon kepada Allah keselamatan.”

Dan juga salah satu hal yang menyebabkan seseorang berani “mengakhiri”hidupnya adalah tidak tahunya dia terhadap balasan Allah bagi orang yang melakukan bunuh diri. Pada hal banyak sekali hadits-hadits shahih yang menjelaskan tentang beratnya siksaan bagi orang yang melakukan bunuh diri. Salah satu hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di bawah ini.


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ بها في بطنه في نار جهنم خالداً مخلدا فيها أبداً، ومنِ شرب سماً فقتل نفسه فهو يتحساه في نار جهنم خالداً مخلداَ فيها أبداً. ومنِ تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردَّى في نار جهنم خالداً مخلداَ فيها أبداً".

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:”Barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka tangannya akan menusuk-nusukan besi itu keperutnya di neraka jahanam dan kekal di dalamnya. Barang siapa meminum racun untuk membunuh dirinya, maka dia meneguk racun tersebut di neraka jahanam kekal di dalamnya. Dan barang siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung untuk membunuh dirinya maka dia akan menjatuhkan dirinya di neraka jahanam dan kekal di dalamnya."
(HR.Imam muslim, Kitab Al-Iman, bab Penjelasan tentang kerasnya larangan bunuh diri dan ini lafadz beliau, dan Al-Bukhari Kitab Ath-Thibb bab 65)

Makna hadits secara umum:

Ketika pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain tanpa haq syar’i (haq syar’i seperti hukum bunuh bagi pembunuh, pelaku zina yang muhshan dll) termasuk salah satu dosa besar yang Allah subhanahu wa ta'ala mengancamnya dengan adzab yang pedih di neraka jahanam, dan Allah subhanahu wa ta'ala mengabarkan bahwa Dia murka dan melaknat pelakunya sebagaimana firman-Nya:


{ ومن يقتل مؤمناً متعمداً فجزاؤه جهنم خالداَ فيها وغضب الله عليه ولعنه وأعد له عذاباً عظيماً } [ النساء آية: 93[

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam dia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.”(QS. An-Nisaa’:93)

Maka pelaku bunuh diri tidak kalah besar dosanya dari pelaku pembunuhan terhadap orang lain. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengancamnya dengan adzab di neraka dan kekal di dalamnya, karena hal itu bertentangan dengan wajibnya bersabar ketika tertimpa musibah dan bencana yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Berdasarkan hal itu, maka pelaku bunuh diri adzabnya dan siksaanya lebih besar dari pembunuh, sebagaimana telah ada hadits shahih yang menjelaskan bahwa pelaku bunuh diri akan diberi beban untuk menyiksa dirinya di nereka jahanam dengan alat yang digunakan untuk bunuh diri, sebagai tambahan siksaan baginya. Apabila dia membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan dia gunakan untuk menusuk dirinya sendiri di neraka. Apbila bunuh dirinya dengan racun, maka dia akan meminum racun tersebut di neraka. Dan apabila dia membunuh dirinya dengan terjun dari ketinggian, maka dia akan menjatuhkan dirinya dari puncak gunung di neraka jahanam. Dan dengan apa saja dia melakukan bunuh diri (dengan tali, setrum listrik, menjatuhkan diri dari tower, loteng, mall dll ) maka dia akan disiksa dengannya di neraka jahanam. Wal ‘iyadzu billahkita memohon perlindungan kepada Allah.

Peringatan:

Hadits ini dan hadits-hadits yang semisalnya yang termasuk hadits-hadits wa’iid/ancaman dan dengan derajat hadits yang shahih, maka diperlakukan apa adanya sebagaiman datang dari Syari’ Yang Mahabijaksana (Allah), tanpa menafsirkannya. Hanya saja pelaku dosa tersebut tidak dihukumi kafir, keluar dari agama. Hal itu sebagaimana yang telah disepakati Ahli Sunnah Wal Jama’ah dari kalangan Sahabat radhiyallahu 'anhum , dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, bahwa seluruh dosa selain (dibawah) syirik berada di bawah kehendak/masyiah Allah subhanahu wa ta'ala(kalau Allah berkehendak mengampuninnya maka Dia akan mengampuninnya dan apabila berkehendak mengadzabnya maka Dia akan mengadzabnya). Sebagaimana firman Allah Ta'ala:


{إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء } [ النساء آية: 48[.

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu (syirik), bagi siapa yang dikehendakinya (QS.An-Nisaa’:48)

Dan juga sebagaimana telah ada di dalam shahih Bukhari, Muslim dan yang lainnya Syafa’at Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bagi umat islam yang melakukan dosa besar, dan keluarnya mereka dari neraka karena syafa’at Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Syafa’at Malaikat, Ulama, penghafal al-Quran, orang yang mati syahid, dan juga karena rahmat Allah subhanahu wa ta'ala Pemilik alam semesta ini.

Faidah Hadits

1.Berat dan besarnya hukuman bagi pelaku bunuh diri di Akherat.

2.Haramnya tindakan bunuh diri.

3.Barang siapa bunuh diri dengan sesuatu (alat/cara), maka dia akan disiksa dengannya di neraka jahanam.

4.Haramnya mengkonsumsi segala sesuatu yang membahayakan badan dan akal (racun, narkoba dll).

5.Hadits-hadits ancaman sifatnya umum, tidak boleh menghukumi orang tertentu dengannya.

Solusi:

Sebagai akhir dari tulisan yang ringkas ini maka kami akan memberikan beberapa solusi yang bermanfaat agar seseorang tidak melakukan tindakan nekat bunuh diri, yang terpenting diantaranya:

1.Mempelajari Islam dengan mempelajari al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih supaya kita bisa beriman, berkeyakinan dan beribadah dengan benar, yang hal itu adalah sumber ketenangan jiwa. Karena ketenangan jiwa adalah factor utama yang menghalangi seseoarang dari melakukan bunuh diri.

2.Selalu mengingat akan besar dan pedihnya siksaan Allah bagi pelaku bunuh diri.

3.Berbagi masalah apabila mendapatkan masalah kepada orang-orang yang bisa dipercaya dan bisa memberikan solusi.

4.Banyak berdoa kepada Allah untuk mendapatkan khusnuk khatimah.
Dan masih banyak lagi solusi-solusi yang bisa menghindarkan seseorang dari melakukan tindakan bunuh diri. Wallahu A’alam bishashawab

Sumber:
Al-Quran terjemahan
Tafsir as-Sa’di
Tafsir Mafatihul Ghaib (Fahru ar-Razi)
www.saaid.net, www.binbaz.org.sa dan situs arab yang lain

(oleh Abu Yusuf Sujono)

Kamis, 26 November 2009

TAKUT KEPADA SYIRIK

[p]Dalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan tentang keharusan seseorang untuk takut terhadap kesyirikan, karena kadang kala manusia mengira bahwa dirinya telah merealisasikn Tauhid, padahal pada hakekatnya dia belum merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata:”Tidaklah aku bersungguh-sungguh dalam sesuatu melebihi kesungguhanku dalam merealisasikan tauhid”. Hal itu karena jiwa ini senantiasa terkait dengan dunia dan menginginkan kesenangannya, baik berupa harta, kehormatan maupun kedudukan. Bahkan kadang kala seseorang melakukann amalan akherat untuk mencari dunia, ini adalah kekurangan dalam tauhid dan keikhlasannya. Dan sedikit orang yang menjadikan akherat sebagai tujuan di dalam setiap amalannya. Penulis (syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi) dalam pemabahasan inni membawakan dua ayat al-Quran dan tiga hadits.

[b]Ayat yang pertama:[/b] firman Allah subhanahu wa ta'ala [r]

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ {48}

[/r][p][i]“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya.”[/i](An-Nisa’:48 dan 116)

[b]Maksudnya:[/b] Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kalau disekutukan dengan sesuatu selain-Nya, maka kesyirikan, Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengampuninya, karena syirik adalah bentuk kejahatan terhadap Allah yang khusus yaitu tauhid. Adapun maksiat yang lain seperti zina, mencuri, maka kadang-kadang nafsu manusia mendapatkan kesenangan/keuntungan dari perbuatan itu, adapun syirik maka itu adalah bentuk kejahatan kepada haq Allah dan manusia tidak mendapatkan kesenangann darinya akan tetapi itu adalah bentuk kedzaliman. Allah berfirman:[r]

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ {13}

[/r][i]“Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang paling besar.”[/i](Luqman:13)

Dan apakah yang dimaksud di sini syirik besar atau syirik kecil, atau kesyirikan secara mutlak?. Maka sebagian ulama mengatakan:”sesungguhnya itu adalah mutlak mencakup seluruh syirik, walaupun syirik kecil sekalipun seperti bersumpah dengan nama selain Allah, maka tidak diampuni.. Adapun dosa besar seperti zina, mencuri, minum minuman keras,maka itu di bawah Masyiatillah/kehendak-Nya, mungkin Allah mengampuninya dan mungkin mengadzabnya.Dan ibnu memiliki dua penapat yang berbeda dalam masalah ini. Namun apapun jawabannya, wajib bagi kita untuk menjauhi kesyirikan besar maupun kecil, ayat di atas adalah umum (mencakup keduanya). Dan maksudوَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ adalah dosa di bawah syirik, bukan selain syirik.

[b]Ayat yang kedua:[/b][r]

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ {35}

[/r][p][i]“…dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-hala (al-Ashnaam)”[/i](Ibrahim:35)

Al-Ashnam adalah bentuk jamak dari shanam yaitu segala sesuatu yang dibentuk seperti bentuk manusia dan dijadikan sesembahan selain Allah. Adapun watsan adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah dalam bentuj apapun, maka watsan lebih umum dari. Shanam.

Ibrahim [i]'alaihissalam[/i] takut terjatuh kedalam kesyirikan, padahal beliau adalah khalilullah/kekasih-Nya, maka bagaimana halnya dengan kita? Maka janganlah merasa aman dari syirik, dan kemunafikan, dan tidak ada yang merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik. Adapun orang yang beriman maka mereka takut kemunafikan, oleh sebab itu Ibnu Abi Mulaikah berkata:[r]

أدركت ثلاثين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف النفاق

[/r][p]“Aku menjumpai tiga puluh orang dari sahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka semuanya takut kepada kesyirikan.”(HR.Bujhari kitab al-Iman)

Demikian juga Umar bin Khattab [i]radhiyallahu ‘anhu[/i] pernah bertanya kepada sahabat Hudzaifah [i]radhiyallahu anhu[/i] apakah Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] menyebutkan namanya dalam deretan nama-nama orang munafik. Maka lihatlah saudaraku bagaimana Umar [i]radhiyallahu ‘anhu[/i] bertanya demikian padahal Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] telah bersaksi bahwa Umar termasuk salah satu penghuni surga.

[b]Dan dari hadits[/b]

[b] Hadits yang pertama[/b] adalah sabda Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam:[/i][r]

((أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر)) فسئل عنه؟ فقال:((الرياء))

[/r][p]“Sesuatu yang paling aku takuti dari kalian (umatku) adalah syirik kecil.” Ketika ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab:”Riya”.(HR.imam Ahmad dengan sanad hasan menurut Ibnu Hajar)

Riya adalah beribadah kepada Allah supaya dilihat manusia dan dipuji manusia karena ibadahnya, bukan beribadah untuk manusia karena apabila tujuannya hal itu (ibadah untuk manusia) maka itu adalah syirik besar. Dan penyebutan riya di sini adalah sebagai contoh saja. Adapun kalau sesorang beribadah dan tujuannya supaya manusia meniru dan mengikutinya maka itu bukan riya, bahkan itu adalah dakwah kepada jalan Allah, sebagaimana Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkata:[/i][r]

فعلت هذا لتأتموا بي وتعلمواصلاتي

[/r][p]“Aku melakukan demikaian, supaya kalian mengikutiku dan mengetahui shalatku”(HR.Bukhari dalam kitab al-Jum’ah, Muslim dalam kitab kitab al-Masajid)

Dan dalam hal pembatal ibadah riya terbagi menjadi dua:

[b]1.Pertama:Riya terjadi dari awal ibadah,[/b] artinya dia beribadah dengan tujuan riya, maka amalannya adalah batal dan tertolak, sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara marfu’ Allah bersabda:[r]

أنا أغنى الشركاء عن الشرك,من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه

[/r][p]”Aku adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan sekutunya, barang siapa beramal, dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalam amalan tersebut maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

[b]2.Kedua:Riya itu datang di tengah-tengah ibadah.[/b]

Maksudnya bahwa pada awalnya ibadahnya untuk Allah akan tetapi ditengah-tengah ibadah datang kepadanya riya, maka yang seperti ini ada dua bentuk:

[i]a.Ia melawan dan menolak riya tersebut,[/i] maka yang seperti ini tidak membahayakannya. Contohnya: seseorang shalat, setelah satu rakaat datang orang-orang pada rakaat kedua, saat itulah muncul dalam hatinya sesuatau yang menjadikan dia memanjangkan ruku’ dan sujudnya atau pura-pura menangis dll, maka apabila dia melawan riya tersebut maka itu tidak membahayakannya.

[i]b. Riya tersebut selalu mengiringinya/menyertainya,[/i] maka seluruh amal yang tumbuh dari riya adalah batil dan tidak diterima, seperti kalau dia memanjangkan berdiri, ruku’, sujud, atau pura-pura menangis, maka seluruh amalannya terhapus. Akan tetapi apakah batalnya ibadah tersebut berlaku untuk seluruh ibadahnya? Ini tidak lepas dari dua kondisi:

[b]=Kondisi pertama:[/b] keabsahan akhir sebuah ibadah tergantung dengan awalanya, yang mana tidak sah awal ibadah seseorang apabila akhir ibadah itu tidak sah, maka yang ini batal seluruhnya. Contohnya shalat, maka tidak mungkin dikatakan shalat itu rusak di akhirnya tetapi tidak rusak di awalnya. Maka batalah seluruh shalatnya, ketika datang riya di tengah-tengah shalatnya dan dia tidak menolak/melawannya.

[b]= kondisi kedua:[/b] Awal ibadah terpisah dari akhirnya, yang mana bisa jadi awal ibadah itu sah tetapi akhir ibadah batal. Maka ibadah sebelum datangnya riya sah, dan yang setelah datangnya riya tidak sah. Contohnya seseorang memiliki uang Rp.1.000.000 kemudian dia mensedekahkannya Rp.500.000 dengan niat ikhlas dan sisanya dia sedekahkan karena riya maka sedekah yang pertama sah dan yang kedua tidak sah.

[b]Hadits yang kedua[/b] adalah hadits dari sahabat Ibnu Mas’ud [i]radhiyallahu anhu[/i]bahwa Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam sabda:[/i][r]

من مات وهو يدعومندون الله ندا دخل النار

[/r][p]“Barang siapa mati dan dia berdo’a/meminta kepada selain Allah dengan menjadikannya sekutu bagi Allah, maka masuk neraka”(HR.Bukhari)

[b]Hadits yang ketiga [/b]adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Jabir[i]radhiyallahu anhu[/i] bahwa Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda: [r]

من لقي الله لايشرك به شيئا دخل الجنة و من لقيه لايشرك به دخل النار

[/r][p]“Barang siapa berjumpa dengan Allah (di akherat) dalam kondisi tidak berbuat syirik maka akan masuk surga, dan barang siapa berjumpa dengan-Nya dalam kondisi berbuat syirik maka masuk neraka”(HR.Muslim kitabul Iman)

[b](diringkas dari al-Qoul al-Mufid syarah Kitab Tauhid, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin bab: al-Khouf min asy-Syirki, Abu Yusuf Sujono)[/b]

TAKUT TERJATUH KEDALAM KE SYIRIKAN

[p]Dalam pembahasan ini penulis akan menjelaskan tentang keharusan seseorang untuk takut terhadap kesyirikan, karena kadang kala manusia mengira bahwa dirinya telah merealisasikn Tauhid, padahal pada hakekatnya dia belum merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya. Oleh sebab itu sebagian salaf berkata:”Tidaklah aku bersungguh-sungguh dalam sesuatu melebihi kesungguhanku dalam merealisasikan tauhid”. Hal itu karena jiwa ini senantiasa terkait dengan dunia dan menginginkan kesenangannya, baik berupa harta, kehormatan maupun kedudukan. Bahkan kadang kala seseorang melakukann amalan akherat untuk mencari dunia, ini adalah kekurangan dalam tauhid dan keikhlasannya. Dan sedikit orang yang menjadikan akherat sebagai tujuan di dalam setiap amalannya. Penulis (syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi) dalam pemabahasan inni membawakan dua ayat al-Quran dan tiga hadits.

[b]Ayat yang pertama:[/b] firman Allah subhanahu wa ta'ala [r]

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ {48}

[/r][p][i]“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya.”[/i](An-Nisa’:48 dan 116)

[b]Maksudnya:[/b] Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kalau disekutukan dengan sesuatu selain-Nya, maka kesyirikan, Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengampuninya, karena syirik adalah bentuk kejahatan terhadap Allah yang khusus yaitu tauhid. Adapun maksiat yang lain seperti zina, mencuri, maka kadang-kadang nafsu manusia mendapatkan kesenangan/keuntungan dari perbuatan itu, adapun syirik maka itu adalah bentuk kejahatan kepada haq Allah dan manusia tidak mendapatkan kesenangann darinya akan tetapi itu adalah bentuk kedzaliman. Allah berfirman:[r]

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ {13}

[/r][i]“Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang paling besar.”[/i](Luqman:13)

Dan apakah yang dimaksud di sini syirik besar atau syirik kecil, atau kesyirikan secara mutlak?. Maka sebagian ulama mengatakan:”sesungguhnya itu adalah mutlak mencakup seluruh syirik, walaupun syirik kecil sekalipun seperti bersumpah dengan nama selain Allah, maka tidak diampuni.. Adapun dosa besar seperti zina, mencuri, minum minuman keras,maka itu di bawah Masyiatillah/kehendak-Nya, mungkin Allah mengampuninya dan mungkin mengadzabnya.Dan ibnu memiliki dua penapat yang berbeda dalam masalah ini. Namun apapun jawabannya, wajib bagi kita untuk menjauhi kesyirikan besar maupun kecil, ayat di atas adalah umum (mencakup keduanya). Dan maksudوَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ adalah dosa di bawah syirik, bukan selain syirik.

[b]Ayat yang kedua:[/b][r]

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ {35}

[/r][p][i]“…dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-hala (al-Ashnaam)”[/i](Ibrahim:35)

Al-Ashnam adalah bentuk jamak dari shanam yaitu segala sesuatu yang dibentuk seperti bentuk manusia dan dijadikan sesembahan selain Allah. Adapun watsan adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah dalam bentuj apapun, maka watsan lebih umum dari. Shanam.

Ibrahim [i]'alaihissalam[/i] takut terjatuh kedalam kesyirikan, padahal beliau adalah khalilullah/kekasih-Nya, maka bagaimana halnya dengan kita? Maka janganlah merasa aman dari syirik, dan kemunafikan, dan tidak ada yang merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik. Adapun orang yang beriman maka mereka takut kemunafikan, oleh sebab itu Ibnu Abi Mulaikah berkata:[r]

أدركت ثلاثين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف النفاق

[/r][p]“Aku menjumpai tiga puluh orang dari sahabat nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka semuanya takut kepada kesyirikan.”(HR.Bujhari kitab al-Iman)

Demikian juga Umar bin Khattab [i]radhiyallahu ‘anhu[/i] pernah bertanya kepada sahabat Hudzaifah [i]radhiyallahu anhu[/i] apakah Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] menyebutkan namanya dalam deretan nama-nama orang munafik. Maka lihatlah saudaraku bagaimana Umar [i]radhiyallahu ‘anhu[/i] bertanya demikian padahal Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] telah bersaksi bahwa Umar termasuk salah satu penghuni surga.

[b]Dan dari hadits[/b]

[b] Hadits yang pertama[/b] adalah sabda Rasulullah [i]shallallahu 'alaihi wasallam:[/i][r]

((أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر)) فسئل عنه؟ فقال:((الرياء))

[/r][p]“Sesuatu yang paling aku takuti dari kalian (umatku) adalah syirik kecil.” Ketika ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab:”Riya”.(HR.imam Ahmad dengan sanad hasan menurut Ibnu Hajar)

Riya adalah beribadah kepada Allah supaya dilihat manusia dan dipuji manusia karena ibadahnya, bukan beribadah untuk manusia karena apabila tujuannya hal itu (ibadah untuk manusia) maka itu adalah syirik besar. Dan penyebutan riya di sini adalah sebagai contoh saja. Adapun kalau sesorang beribadah dan tujuannya supaya manusia meniru dan mengikutinya maka itu bukan riya, bahkan itu adalah dakwah kepada jalan Allah, sebagaimana Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkata:[/i][r]

فعلت هذا لتأتموا بي وتعلمواصلاتي

[/r][p]“Aku melakukan demikaian, supaya kalian mengikutiku dan mengetahui shalatku”(HR.Bukhari dalam kitab al-Jum’ah, Muslim dalam kitab kitab al-Masajid)

Dan dalam hal pembatal ibadah riya terbagi menjadi dua:

[b]1.Pertama:Riya terjadi dari awal ibadah,[/b] artinya dia beribadah dengan tujuan riya, maka amalannya adalah batal dan tertolak, sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara marfu’ Allah bersabda:[r]

أنا أغنى الشركاء عن الشرك,من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه

[/r][p]”Aku adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan sekutunya, barang siapa beramal, dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalam amalan tersebut maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)

[b]2.Kedua:Riya itu datang di tengah-tengah ibadah.[/b]

Maksudnya bahwa pada awalnya ibadahnya untuk Allah akan tetapi ditengah-tengah ibadah datang kepadanya riya, maka yang seperti ini ada dua bentuk:

[i]a.Ia melawan dan menolak riya tersebut,[/i] maka yang seperti ini tidak membahayakannya. Contohnya: seseorang shalat, setelah satu rakaat datang orang-orang pada rakaat kedua, saat itulah muncul dalam hatinya sesuatau yang menjadikan dia memanjangkan ruku’ dan sujudnya atau pura-pura menangis dll, maka apabila dia melawan riya tersebut maka itu tidak membahayakannya.

[i]b. Riya tersebut selalu mengiringinya/menyertainya,[/i] maka seluruh amal yang tumbuh dari riya adalah batil dan tidak diterima, seperti kalau dia memanjangkan berdiri, ruku’, sujud, atau pura-pura menangis, maka seluruh amalannya terhapus. Akan tetapi apakah batalnya ibadah tersebut berlaku untuk seluruh ibadahnya? Ini tidak lepas dari dua kondisi:

[b]=Kondisi pertama:[/b] keabsahan akhir sebuah ibadah tergantung dengan awalanya, yang mana tidak sah awal ibadah seseorang apabila akhir ibadah itu tidak sah, maka yang ini batal seluruhnya. Contohnya shalat, maka tidak mungkin dikatakan shalat itu rusak di akhirnya tetapi tidak rusak di awalnya. Maka batalah seluruh shalatnya, ketika datang riya di tengah-tengah shalatnya dan dia tidak menolak/melawannya.

[b]= kondisi kedua:[/b] Awal ibadah terpisah dari akhirnya, yang mana bisa jadi awal ibadah itu sah tetapi akhir ibadah batal. Maka ibadah sebelum datangnya riya sah, dan yang setelah datangnya riya tidak sah. Contohnya seseorang memiliki uang Rp.1.000.000 kemudian dia mensedekahkannya Rp.500.000 dengan niat ikhlas dan sisanya dia sedekahkan karena riya maka sedekah yang pertama sah dan yang kedua tidak sah.

[b]Hadits yang kedua[/b] adalah hadits dari sahabat Ibnu Mas’ud [i]radhiyallahu anhu[/i]bahwa Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam sabda:[/i][r]

من مات وهو يدعومندون الله ندا دخل النار

[/r][p]“Barang siapa mati dan dia berdo’a/meminta kepada selain Allah dengan menjadikannya sekutu bagi Allah, maka masuk neraka”(HR.Bukhari)

[b]Hadits yang ketiga [/b]adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Jabir[i]radhiyallahu anhu[/i] bahwa Nabi [i]shallallahu 'alaihi wasallam[/i] bersabda: [r]

من لقي الله لايشرك به شيئا دخل الجنة و من لقيه لايشرك به دخل النار

[/r][p]“Barang siapa berjumpa dengan Allah (di akherat) dalam kondisi tidak berbuat syirik maka akan masuk surga, dan barang siapa berjumpa dengan-Nya dalam kondisi berbuat syirik maka masuk neraka”(HR.Muslim kitabul Iman)

[b](diringkas dari al-Qoul al-Mufid syarah Kitab Tauhid, syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin bab: al-Khouf min asy-Syirki, Abu Yusuf Sujono)[/b]

SEMUANYA FANA

Barang siapa yang mendalami makna dunia akan sampai pada kesimpulan bahwa dunia sebenarnya tak memiliki kenikmatan hakiki, walaupun kenikmatan ada, biasanya akan diikuti berbagai cobaan yang jauh melebihi kenikmatan itu.

Salah satu kenikmatan di dunia adalah wanita cantik. Mungkin saja ia tak mencintai suaminya. Jika suaminya mengetahui hal itu, ia akan meninggalkanya. Mungkin juga wanita cantik itu mengkhianati suaminya. Jika itu yang terjadi, kehancuran telah menanti. Jika ia berhasil melakukan apa saja kepadanya, perpisahan pasti akan mengiris-iris hatinya.

Kenikmatan yang lain adalah anak-anak laki-laki dan perempuan hingga mereka menikah. Jika anak perempuannya menikah, ia merasa khawatir suaminya akan berkhianat sehingga merebaklah aib sang anak dan keluarganya. Jika anak laki-lakinya sakit, hati terasa gundah. Jika ia keluar dari batas-batas moral, semakin menguatlah keresahan itu. Jika menjadi musuh ayahnya, yang ia inginkan adalah agar orang tuanya segera mati. Akan tetapi, jika perpisahan yang terjadi, hal itu akan menusuk-nusuk hati sang ayah.

Saat menginginkan sesuatu, orang fasik akan menghancurkan agamanya demi mencapai dunia. Perangainya menjadi berubah akibat kelakuannya yang yang berlumuran dosa dan noda. Salah satu bentuk kelezatan dunia yang lain adalah harta. Akan tetapi, sering kali harta-harta itu didapat dari jalan yang haram. Jika harta itu lepas dari tangannya, terganggulah jiwanya dan umurnya akan pergi dengan sia-sia.

Ini hanya beberapa misal (contoh). Oleh sebab itu, wajib bagi orang yang mendapat taufiq dari Allah subhanahu wa ta'ala untuk mencari hal-hal yang penting dan mendorong kepada jalan keselamatan agama, raga, dan kesehatan rohani. Hendaknya ia menjauhi hawa nafsu yang membakar-bakar yang bencananya berlipat-lipat dari kenikmatannya.

Barang siapa bersabar atas semua hal yang buruk dengan harapan memoeroleh faidah, akan menikmati kenikmatan yang berlipat-lipat, seperti para penuntut ilmu yang mau berpayah-payah. Ia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Orang yang senang menganggur akan menyesal dengan penyesalan berlipat ketika menerima balasan akibat penganggurannya.

Berhati-hatilah, jangan sampai hawa nafsu menjebak anda dalam jerat-jerat mematikan. Jika hawa nafsu menginginkan sesuatu yang terlarang, cegahlah ia serta bandingkanlah kenikmatan di akhirat. Tentu saja, hanya orang-orang yang berhati beninglah yang akan banyak mengingat Allah.

(Sumber: Shaidul Khatir (edisi terjemah) Pustaka Maghfirah, disadur oleh Abu Yusuf Sujono)

Rabu, 25 November 2009

Berdusta atas Nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:’barang siapa berdusta atas namaku maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka’”

Takhrij Hadits

Hadits ini adalah hadits mutawatir dari sahabat Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Jabir, Ibnu Abbas dll radhiyallahu 'anhum, yang diriwayatkan oleh :

Imam al-Bukhari dalam Jami’ush Shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Imam Muslim dalam Muqadimmah Shahih Muslim

Imam Tirmidzi dalam al-Jami’

Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud

Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah

Imam Ad-Darimi dalam Sunan ad-Darimi

Imam Nawawi (Syarh Shahih Muslim) berkata:”Ini adalah hadits yang agung yang berada pada puncak keshahihannya”.Dan dikatakan bahwa hadits tersebut adalah mutawatir, Abu Bakar al-Bazzar di dalam musnadnya mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam oleh sekitar 40 orang Sahabat radhiyallahu 'anhum. Imam Abu Bakar ash-Shoirofi (Syarh Risalah asy-Syafi’i) rahimahumallah menghikayatkan :”Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 60 Shabat secara marfu’”. Ibnu Mandah menyebutkan bahwa jumlah perawi hadits ini sampai 87 kemudian beliau berkata dan selain mereka. Sebagian huffadz menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari 72 Shahabat dan termasuk di dalamny adalah 10 Shahabat yang dijanjikan masuk surga.

Al-Hafidz Ibnu hajar dalam fathul bari berkata:”Ibnul Jauzi mengumpulkan jalur periwayatan hadits ini dalam muqadimmah kitab beliau al-Maudhu’at lebih dari 90 jalur, demikianla yang diyakini Ibnu Duhyah.

Pemahaman hadits yang benar ;

Makna sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:”maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”, para ulama berkata:”maknanya hendaklah tinggal, atau hendaklah menjadikan tempat tinggalnya di neraka”. Al-Khathabi berkata:” asal katanya adalah mabaa’atu al-ibil artinya tempat tinggal onta. Kemudia dikatakan bahwa perkataan Nabi di atas adalah do’a dengan lafadz berita, yang artinya,’semoga Allah menempatkannya di neraka.men gambil

Dusta adalah mengabarkan tentang sesuatu yang berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya, baik sengaja ataupun lupa, inilah madzhab Ahli Sunnah. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam syarh Shahih Muslim:”Ketahuilah bahwa hadits ini mengandung beberapa faidah dan kaidah:Pertama, menetapkan madzhab Ahli Sunnah, bahwa dusta mencakup pemberitaan dari orang yang sengaja atau lupa, dengan berita yang berbeda dengan kenyataan. Kedua, kerasnya larangan berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi seseorang tidak kafir karena hal ini, kecuali kalau dia menghalalkannya (berdusta atas nama Nabi). Dan inilah madzhab yang terkenal di kalangan ulama. Ketiga, Sesungguhnya tidak ada beda antara berdusta atas nama beliau dalam masalah hukum, atau dalam masalah yang tidak ada hukum di dalamnya, seperti Targhib dan Tarhib, nasehat dan lain-lain, maka semuanya haram dan termasuk dosa besar.

Pemahaman yang keliru tentang Hadits ini

Al-Mu’alimi berkata dalam kitab al-Anwar al-Kasyifah:”Terdapat sekelompok orang dari golongan orang bodoh dan sesat, yan berpegang kuat dengan kata” علي/ atas kami” maka dia berkata:”Kami berdusta untuk beliau bukan atas beliau”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam fathul bari berkata:”Telah tertipu sekelompok orang dari kalangan orang-orang bodoh, maka mereka membuat hadits-hadits palsu dalam Targhib dan Tarhib dan mereka berkata:”Kami tidak berdusta atas nama beliau, akan tetapi kami melakukan hal itu (membuat hadits palsu) untuk menguatkan syariat beliau”. Dan mereka tidak tahu bahwa kedustaan mereka atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah kedustaan atas nama Allah, karena sesungguhnya hal itu adalah, menetapkan hukum syariat baik itu berupa mewajibkan atau mensunahkan, demikian juga mengharamkan dan memakruhkan.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:”Tidak ada beda di dalam pengharaman berdusta atas nama beliau dalam masalah hukum, atau dalam masalah yang tidak ada hukum di dalamnya, seperti Targhib dan Tarhib, nasehat dan lain-lain, maka semuanya haram dan termasuk dosa besar dan sesuatu yang paling buruk berdasarkan ijma’ kaum muslimin yang mereka diperhitungkan ijma’ mereka, berbeda dengan karamiyah (sebuah golongan yang menyimpang) yang mereka mengira bahwa bleh membuat hadits palsu dalam masalah targhib dan tarhib. Hal ini diikuti oleh orang-orang bodoh yang menisbatkan diri kepada zuhud, atau menisbatkan kepada kepbodohan sepertinya. Dan syubhat mereka adalah kalimat tambahan dalam hadits di riwayat yang lain:”Barang siapa berdusta atas namaku untuk menyesatkan manusia maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”. Maka mereka mengira bahwa yang mereka lakukan adalah kebohongan untuk beliau, bukan atas nama beliau. Inilah yang di jadikan dalil oleh mereka, puncak kebodohan dan kelalaian, dan ini adalah bukti yang jelas yang menunjukkan akan jauhnya mereka dari pengetahuan terhadap kaidah syariat. Maka mereka telah menggabungkan dalam diri mereka kesalahan-kesalahan dalam akal mereka yang lemah dan otak mereka yang rusak.

Maka mereka menyelisihi firman Allah Ta’ala:

وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً {36}

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tantangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya”.(Al-Israa’:36)

Dan menyelisihi ketegasan hadits yang mutawatir di atas dan hadits-hadits masyhur tentang larangan membuat persaksian palsu atau dusta. Mereka juga menyelisihi kesepakatan/ijma’ ulama dan dalil-dalil pasti tentang haramnya berdusta atas nama seseorang, lalu bagaimana kalau berdusta atas nama orang yang perkataannya adalah syariat, dan ucapannya adalah wahyu?. Maka apabila di lihat maka perkataan mereka adalah bentu kedustaan atas nama Allah.

Dan yang paling mengherankan adalah perkataan mereka:”ini adalah kedustaan untuk (membela beliau). Maka ini adalah bentuk kebodohan mereka terhadap bahasa Arab dan ungkapan syariat, maka semuanya (yang mereka lakukan) adalah kedustaan atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun hadits yang dijadikan dalil dan dipegang oleh mereka, maka dijawab oleh ulama bahwa tambahan “untuk menyesatkan manusia dalam riwayat lain adalah tambahan yang batil, dan hal itu disepakati oleh seluruh hafidz. Dan tidak diketahui satupun jalur yang shahih dari tambahan dalam hadits tersebut. Wallahu A’lam

(Diterjemahkan secara ringkas dari kitab: Tashihul Akhtho wal Mafahim, Raaid bin Shabri.Hal.65-70.Abu Yusuf Sujono)

MENYERU KEPADA DAKWAH TAUHID

Setelah seorang muslim mempelajari dan merealisaikan tauhid, takut dan menjauhi syirik maka hendaklah dia menyebarkan dan mendakwahkan tauhid ini kepaa orang lain karena tidak sempurna keimanan kecuali dengan berdakwah kepada tauhid. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Maka di samping seseorang harus bertauhid dia juga harus berdakwah kepada tauhid tersebut, kalau tidak maka keimanannya kurang sempurna. Dan tidak diragukan bahwa orang yang menempuh jalan tauhid, dia tidak menempuh jalan tersebut melainkan dia memandang bahwa tauhid adalah jalan yang paling utama. Dan jika ia benar dalam keyakinannya maka pasti dia akan mendakwahkan dan menyebarkan keyakinanya. Dakwah kepada Laa illaha illallahu adalah termasuk kesempurnaan tauhid, tidak sempurna tauhid kecuali dengannya. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}

Katakanlah:"Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS.Yusuf :108)

“Jalanku” yang dimaksud adalah apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berupa syari’at. Aku meyeru kepada jalan Allah, hal ini karena da’I ada dua, yang

pertama da’i yang menyeru kepada jalan Allah yaitu da’i yang ikhlas yang berniat menunjuki manusia ke jalan Allah

kedua da’i yang menyeru kepada selain Allah yang kadang-kadang dia menyeru kepada dirinya sendiri dengan cara berdakwah kepada kebenaran/al-haq tetapi tujuannya supaya dihormati dan dimuliakan, oleh sebab itu engkau akan melihat dia marah kalau manusia tidak melakukan apa yang dia perintahkan. Kadang pula dia menyeru/berdakwah kepada pemimpinnya sebagaimana yang terjadi di sebagian besar negara di mana di dalamnya terdapat ulama-ulama sesat yang selalu membenarkan perilaku pemerintah waluapun salah dan menyelisihi syariat.

Barang siapa yang berdakwah kemudian manusia tidak mau menerima dakwahnya dan bahkan menjauhinya, maka janganlah berputus asa, dan meninggalkan dakwah, karena seandainya Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan perantara dakwahnya maka itu lebih baik baginya daripada ia mendapatkan unta merah (barang paling berharga) (HR.Bukhari dan Muslim). Maka apabila dia berdakwah dan tidak mengikutinya maka dia marah karena kebenaran tidak diikuti bukan karena dirinya tidak diikuti. Dan apabila ada satu orang yang menerima dakwahnya maka itu sudah mencukupi, apabila tidak ada yang menerimanya maka dia telah terbebas dari kewjibannya (dakwah).

Kemudian cukuplah dengan adanya dakwah kepada kebenaranan dan memperingatkan dari kebatilan terdapat kejelasan bagi manusia bahwa hal ini adalah benar dan yang ini adalah salah. Karena ketika manusia semuanya tidak menjelaskan kebenaran dan menyetujui kebatilan, maka dengan berlalunya zaman kebenaran akan berbalik menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran.

Dan hedaknya dakwah dilakukan di atas bashirah/Ilmu dan yang dimaksud adalah bukan hanya ilmu agama/syar’i saja akan tetapi mencakup ilmu tentang kondisi orang yang didakawahi dan lmu tentang metode berdakwah. Maka bekal ilmu syari’i saja tidak cukup dalam berdakwah, tetapi dibutuhkan sikap hikmah dalam berdakwah yaitu sikap di mana kita menggunakan metode dakwah sesuai dengan kondisi orang yang kita dakwahi. Maka orang-orang yang tidak memiliki ilmu tidak layak untuk berdakawah, karena dakwahnya orang yang tidak berilmu/jahil lebih banyak merusak daripada memberikan perbaikan. Dan jalan dakwah inilah (dakwah di atas ilmu) jalannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikuti beliau.

عن ابن عباس - رضي الله عنهما - أن رسول الله لما بعث معاذاً إلى اليمن قال :« إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب ، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله - وفي راوية : إلى أن يوحدوا الله - فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة ، فإن أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم. فإن هم أطاعوك لذلك، فإياك وكرائم أموالهم ، واتق دعوة المظلوم ، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب ».

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengutus Muadz radhiyallahu 'anhu ke Yaman, beliau bersabda:’Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah awal dakwahmu adalah syahadat Laa ilaha illallahu –di dalam riwayat lain: Supaya mereka mentauhidkan dan mengesakan Allah-, apabila mereka mentaatimu, maka beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, apabila mereka mentaatimu, maka beri tahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shadaqah/zakat yang diambil dari orang kaya di antara mereka, dan di bagikan kepada orang miskin mereka. Apabila mereka mentaatimu, maka hati-hatilah terhadap harta terbaik mereka (untuk zakat), dan takutlah kepada do’anya orang yang teraniaya, sesungguhnya antara do’a mereka dengan Allah tidak ada penghalang.’”

Yaitu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman sebagai seorang pengajar, hakim dan da’i pada bulan rabi’ul awal tahun 10 H, bersama Abu Musa al-As’ari maka beliau menasehatkan kepada mereka untuk memberikan kemudahan dan tidak menyusahkan.

Dalam hadits di atas ada beberapa pelajaran yang bisa diambil di antarannya:

1.Kedudukan tauhid sebagai awal kewajiban atas seorang hamba, ini diambil dari sabda beliau” maka jadikanlah awal dakwahmu adalah syahadat Laa ilaha illallahu –di dalam riwayat lain: Supaya mereka mentauhidkan dan mengesakan Allah.

2.Memulai dakwah dengan tauhid sebelum yang lainnya.

3.Makna “untuk mengesakan Allah adalah makna syahadat/persaksian Laa ilaha illallahu” ini diambil dari ungkapan Shahabat dalam satu riwayat dengan ungkapan” Syahadat/persaksian Laa ilaha illallah” dan dalam riwayat yang lain dengan ungkapan” Supaya mereka mentauhidkan dan mengesakan Allah.”

4.Peringatan tentang pentingnya belajar dan mengajar dengan cara beretahap.

5.Memulai segala sesuatu dari yang paling penting kemudian kepada sesuatu yang penting (memakai skala prioritas).

6.Tuntunan penyaluran zakat, diambil dari sabda beliau” diambil dari orang kaya di antara mereka, dan di bagikan kepada orang miskin mereka”

7. Dianjurkannya seorang alim untuk membongkar syubhat atau kerancuan dari hati para penuntut ilmu. Yang dimaksud syubhat adalah syubhat ilmu, maksudnya ada kebodohan pada diri seseorang, ini diambil dari sabda beliau” maka beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, apabila mereka mentaatimu, maka beri tahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shadaqah/zakat yang diambil dari orang kaya di antara mereka, dan di bagikan kepada orang miskin mereka”. Maka beliau menjelaskan bahwa zakat itu diambil dari orang kaya mereka dan disalurkan dan dibagikan kepada orang miskin mereka.

8.Larangan untuk memungut zakat dari harta terbaik mereka, sebagaimana sabda beliau” dan terhadap harta terbaik mereka (untuk zakat)” karena kata “berhati-hatilah”memberikan makna peringatan dan peringatan menunjukkan larangan.

9.Perintah untuk takut terhadap do’anya orang-orang yang teraniaya/terdzalimi, sebagaimana sabda beliau ”takutlah kepada do’anya orang yang teraniaya”.

10.Penjelasan bahwa do’a mereka tidak terhalangi, sebagaimana sabda beliau “sesungguhnya antara do’a mereka dengan Allah tidak ada penghalang”. Maka dihubungkannya at-Targhib(motivasi) dan at-Tarhib(ancaman) dengan hukum adalah sesuatu yang bisa mendorong dan memotivasi kita apabila berupa at-Targhib, dan akan menjauhkan kita dan membuat kita takut apabila berupa at-Tarhib sebagaimana sabda beliau “takutlah kepada do’anya orang yang teraniaya”,maka kadang-kadang seseorang tidak takut, akan tetapi apabila dikatakan kepadanya” sesungguhnya antara do’a mereka dengan Allah tidak ada penghalang” maka dia takut dan akan meninggalkan larangan itu.

[b](Disarikan dari al-Qoul al-Mufid (edisi Arab) bab.Dakwah Kepada Tauhid,cet.Daar Ibnul Jauzi.oleh Abu Yusuf Sujono )[/b]